ahlussunnah wal jamaah

Umar bin abdul aziz Telat sholat digundul

Siapa yang tidak tahu Umar Bin Abdul Aziz, khalifah yang keadilannya melegenda itu. Sepeninggal para khulafarrasyidin, umat islam tidak menemukan pemimpin negara yang adil seperti mereka. Malah sebaliknya, para khalifah Bani Umayyah menyuguhkan panggung sejarah yang bercelemotan dengan darah. Namun dengan naiknya Umar bin Abdul Aziz ke atas kursi khilafah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik maka umat islam menemukan kembali sosok khalifah, pengganti Rasulullah, yang sebenarnya. Kebijakan yang diterapkan oleh Umar bin Abdul Aziz dalam menjalankan roda kepemerintahannya sama seperti yang diterapkan oleh para kkhulafaarrasyidin yang empat itu, yaitu berdasarkan Qur’an dan Sunnah Nabi. Tak heran kalau Sufyan Atssauri berkata: “Khalifah itu ada lima. Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz.”

Kesalehan dan ketakwaan Umar bin Abdul Aziz tidak luput dari peran orang tua dan para pendidiknya di waktu ia masih kanak-kanak. Orang tuanya, Abdul Aziz bin Marwan, sangat memperhatikan pendidikan anak tercintanya tersebut. Walaupun sang anak adalah berasal dari keluarga ningrat Bani Umayyah yang berkuasa kala itu tapi ia tidak dimanja. Bahkan dengan kemauan sendiri Umar bin Abdul Aziz meminta kepada sang ayah untuk dikirim ke Madinah dengan tujuan menimba ilmu dan belajar adab (sopan santun) dari para ulama Madinah. Kala itu sang ayah menjabat sebagai gubernur Mesir.

Salah satu guru Umar bin Abdul Aziz di Madinah adalah Saleh bin Kaisan, seorang ahli hadis dan pendidik yang saleh. Pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz telat dari shalat berjamah. Saleh bin Kaisan menegurnya.

“Kenapa kamu telat?”

“Tadi pelayan saya menata rambut saya,” jawab Umar bin Abdul Aziz beralasan.

“Kau lebih mengutamakan hal itu daripada shalat jamaah?” sergah Saleh bin Kaisan dengan nada ingkar.

Kejadian tersebut dilaporkan melalui surat oleh sang kiai, Saleh bin Kaisan, kepada wali santrinya, ayah Umar bin Abdul Aziz di Mesir. Sang ayah menindaklanjuti laporan guru pendidik anaknya itu. Dikirimlah seseorang utusan untuk datang ke Madinah. Utusan itu datang ke Umar bin Abdul Aziz. Tanpa bicara sediktpun sang utusan langsung menggundul rambut Umar bin Abdul Aziz.

Kerjasama antara wali santri dan sang pendidik dalam mensukseskan pendidikan seorang anak didik, seperti yang dilakukan oleh Abdul Aziz bin Marwan dan Saleh bin Kaisan dalam mendidik Umar bin Abdul Aziz ini, patut untuk ditiru dan diterapkan pada zaman sekarang. Gara-gara telat salat jamaah saja langsung diambil tindakan yang cepat. Dicari penyebabnya. Rambut. Maka digundullah mahkota itu sebagai peringatan kepada Umar bin Abdul Aziz agar tidak terlena dengan rambutnya sehingga telat berjamaah. Sekali lagi telat berjamaah bukan tidak salat jamaah, atau tidak salat sama sekali.

Bisa dibayangkan andai yang membikin telat berjamaah itu televisi, PS, internet atau sarana bermain yang lain, tentu semua itu akan di'gunduli'. Entah orang tua sekarang apa bisa. Penggundulan kepala juga diterapkan di pesantren-pesantren yang mendidik santrinya menghargai nilai syariat dan adab Islam, diantaranya shalat jamaah.


0 komentar:

Poskan Komentar